Tampilkan postingan dengan label open source. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label open source. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Maret 2011

Sejarah logo Linux dan FreeBSD

 Linux(Tux)
 
Logo Linux adalah sebuah pinguin. Tidak sepert produk komersil sistem operasi lainnya, Linux tidak memiliki simbol yang terlihat hebat. Melainkan Tux, nama pinguin tersebut, memperlihatkan sikap santai dari gerakan Linux. Logo yang lucu ini memiliki sejarah yang unik. Awalnya, tidak ada logo yang dipilih untuk Linux, namun pada waktu Linus (pencipta Linux) berlibur, ia pergi ke daerah selatan. Disanalah dia bertemu seekor pinguin yang pendek cerita menggigit jarinya. Kejadian yang lucu ini merupakan awal terpilihnya pinguin sebagai logo Linux.


Tux adalah hasil karya seniman Larry Ewing pada waktu para pengembang merasa bahwa Linux sudah memerlukan sebuah logo (1996), dan nama yang terpilih adalah dari usulan James Hughes yaitu: "(T)orvolds (U)ni(X) -- TUX!". Lengkaplah sudah logo dari Linux, yaitu seekor pinguin bernama Tux.

Hingga sekarang logo Linux yaitu Tux sudah terkenal ke berbagai penjuru dunia. Orang lebih mudah mengenal segala produk yang berbau Linux hanya dengan melihat logo yang unik nan lucu hasil kerjasama seluruh komunitas Linux di seluruh dunia.

FreeBSD(daemon)

Ada beberapa cerita anekdot-anekdot tentang penggunaan daemon (bukan setan) sebagai logo BSD. Logo BSD memang berbentuk seperti setan yang mengundang banyak pertanyaan banyak orang, kenapa tidak menggunakan logo selain setan. Sangat berbeda sekali jika logonya adalah gambar seoarang cowok cute dengan sepatu trendy. Pada dasarnya, film-film/ atau dunia televisi adalah yg menciptakan image “daemon” nama yg buruk dengan menggambarkan sebagai sosok yg jahat atau utusan setan. Karena sesungguhnya belum tentu wujud setan itu adalah seperti itu (tergambar seperti logo BSD sekarang).

Sampai skg ini chuck (daemon) telah menjadi simbol BSD.Jika penggunaan daemon menyinggung anda, tolong jangan kaitkan dengan keyakinan anda untuk menggunakan FreeBSD. Anda akan lebih baik menggunakan windows.
Seorang yang agamis dapat menginstal sebuah OS yg menggunakan daemon sebagai logo dengan memahami arti sebenarnya dari logo, dan menyadari bahwa ia tidak berdasar pada agamanya atau keyakinan manapun, ia hanyalah sekedar logo.

Lakukanlah pencarian dengan kata kunci DAEMON di Engine Search seperti Google, dan hal pertama yang anda temukan adalah bahwa CHUCK (daemon) bukanlah setan atau signifikan dengan agama apapun. Dalam pengertian kuno, istilah “daemon” berarti “sesuatu yg selalu ada”. Itu digunakan untuk merujuk kepada perasaan, impuls atau (dalam beberapa kasus) keyakinanan tak hanya sekedar semangat melihat sesuatu. Hal ini tidak bias terhadap baik atau jahat. Ketika sistem Unix pertama dikembangkan, beberapa program disebut “daemon” karena definisi bekerja: mereka selalu ada…mengerjakan apapun pekerjaannya. Pada masa tahun 70-an, seorang kartunis meyusun gambar kartun daemon sebagai logo BSD, dan gambarpun berhenti sampai disitu.

Jadi apapun agama serta kenyakinan anda, jika anda tertarik dengan apa yang dinamakan “The Power to Server”, maka FreeBSD adalah pilihan yg tepat. 

Sabtu, 30 Oktober 2010

Setting Up DHCP Server FreeBSD 7

Sekilas tentang DHCP : DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol) adalah protokol yang berbasis arsitektur client/server yang dipakai untuk memudahkan pengalokasian alamat IP dalam satu jaringan. Sebuah jaringan lokal yang tidak menggunakan DHCP harus memberikan alamat IP kepada semua komputer secara manual. Jika DHCP dipasang di jaringan lokal, maka semua komputer yang tersambung di jaringan akan mendapatkan alamat IP secara otomatis dari server DHCP. Selain alamat IP, banyak parameter jaringan yang dapat diberikan oleh DHCP, seperti default gateway dan DNS server (wikipedia).OK… mulai yuks
Konfigurasi :
DHCP Interface : xl0
Subnet Mask : 255.255.255.0
Gateway : 192.168.0.200
Name Server : 192.168.0.200, 208.67.222.222, 208.67.220.220

Cek mesin :

[root@arema /home/arema]# uname -a
FreeBSD arema 7.2-STABLE FreeBSD 7.2-STABLE #0: Tue Oct 13 09:51:42 UTC 2009     arema@arema:/usr/obj/usr/src/sys/FEBRIEKO  i386
Install DHCP Server :
[root@arema /home/arema]# pkg_add -r isc-dhcp30-server
Fetching ftp://ftp.freebsd.org/pub/FreeBSD/ports/i386/packages-7-stable/Latest/isc-dhcp30-server.tbz…
Fetching ftp://ftp.freebsd.org/pub/FreeBSD/ports/i386/packages-7-stable/Latest/isc-dhcp30-server.tbz… Done.
Added group “dhcpd”.
Added user “dhcpd”.
****  To setup dhcpd, you may have to copy /usr/local/etc/dhcpd.conf.sample
to /usr/local/etc/dhcpd.conf for editing.
Edit dhcpd.conf :
[root@arema /home/arema]# nano /usr/local/etc/dhcpd.conf
#########mulai########
default-lease-time 600;
max-lease-time 7200;
ddns-update-style none;
subnet 192.168.0.0 netmask 255.255.255.0 {
range 192.168.0.20 192.168.0.29;
option routers 192.168.0.200;
option subnet-mask 255.255.255.0;
option domain-name-servers 192.168.0.200, 208.67.222.222, 208.67.220.220;
}
#########selesai########
Buat file leases :
[root@arema /home/arema]# touch /var/db/dhcpd.leases
Tambahkan di rc.conf :
[root@arema /home/arema]# nano /etc/rc.conf
dhcpd_enable=”YES”
dhcpd_ifaces=”xl0″
restart mesin……
lihat client yang aktif :
[root@arema /home/arema]# tail -f /var/db/dhcpd/dhcpd.leases
contoh hasilnya :
}
lease 192.168.0.25 {
starts 1 2009/11/09 01:07:32;
ends 1 2009/11/09 01:17:32;
binding state active;
next binding state free;
hardware ethernet 00:24:3a:0f:20:76;
uid “\001\000$,\017 v”;
client-hostname “eka”;
}
lease 192.168.0.29 {
starts 1 2009/11/09 01:09:06;
ends 1 2009/11/09 01:19:06;
binding state active;
next binding state free;
hardware ethernet 00:01:6c:45:4c:99;
uid “\001\000\001l\000L\231″;
client-hostname “admin-eb7ff63ff”;
}
lease 192.168.0.23 {
starts 1 2009/11/09 01:09:36;
ends 1 2009/11/09 01:19:36;
binding state active;
next binding state free;
hardware ethernet 00:1b:77:23:82:4f;
uid “\001\000\033w\341\202O”;
client-hostname “b3rta-e73ac8654″;
}

Selesai selamat mencoba...

credited by: Yasir

Selasa, 29 Juni 2010

12 Juta Pengguna Pakai Linux Ubuntu

ubuntuJAKARTA, JUMAT -  Tahu nggak berapa pengguna Linux Ubuntu di dunia? Menurut vendor Linux Canonical,  jumlah installed base-nya sudah di atas 12 juta pengguna.
Menurut Linux Planet, lembaga open source ini optimis bahwa rilis Ubuntu 10.04 yang diberi nama kode Lucid Lynx akan menggenjot massa penggunanya lebih tinggi lagi pada akhir April mendatang. Pada tahun 2008, Canonical memperkirakan basis penggunanya ada di kisaran 8 juta.
“Menggunakan metodologi yang sama dengan angka yang kami berikan di tahun 2008, kami yakin ada sekitar 12 juta pengguna saat ini,” kata Chris Kenyon (Vice President for OEM di Canonical).
Lucid Lynx Desktop akan  menjadi rilis Long-Term Supported (LTS) pertama dari Ubuntu dalam kurun waktu dua tahun. Rilis ini akan menawarkan dukungan tiga tahun untuk Ubuntu Desktop dan lima tahun untuk Ubuntu Server.

Lucid Lynx akan memamerkan antarmuka “aubergine” dan menyertakan semua konektivitas social notworking dalam antarmuka yang mudah dipakai untuk Facebook, Digg, Twitter, Identica, Google Talk, MSN dan IRC.

Bintang Merah itu Bertampang Windows

RedStar_DesktopJAKARTA, SENIN – Tampangnya mirip Windows. Kelakuannya pun tak beda dengan Windows. Tapi ini bukan Windows, melainkan Linux!
Sistem operasi bernama Red Star ini dibesut oleh pemerintah Korea Utara. Begitu ungkap blogger LiveJournal dan mahasiswa Rusia ashen_rus seperti dikutip hothardware.
Mikhail, begitu nama asli ashen_rus, telah memposting ulasang tentang Red Star OS di blog-nya. Berikut hasil terjemahan ulasan berbahasa Rusia yang dilakukan oleh Google Translate.
Menurut Mikhail, Red Star diciptakan atas permintaan Kim Jong-il. OS ini terdiri dari dua versi, termasuk server dan client. Instalasinya memakan waktu 15 menit di sistem AMD Athlon XP 1500+ milik Mikhail. Kebutuhan sistem minimum adalah Intel Pentium III 800MHz CPU, RAM 256MB, dan ruang harddisk 3GB drive.

Tidak disebutkan kernal apa yang mendasari Red Star, tapi Mikhail mengatakan bahwa rilis ini belum sepenuhnya stabil dan masih perlu dikembangkan lebih jauh. Danyang sangat jelas, Red Star mencoba untuk memadukan tampilan dan gaya dari Windows OS dengan onderdil Linux.